Fatwa MUI

Sekarang ini, orang-orang lagi rame membicarakan fatwa MUI tentang Golput dan Rokok. Kemarin dulu rame-rame tentang fatwa sesat aliran Ahmadiyah. Lebih lama lagi fatwa tentang halalnya kodok dan haramnya memberi Ucapan Selamat Natal kepada umat Nashrani. Sekarang, kemarin, dulu dan Insya Allah besok-besok juga, orang Islam dan juga orang bukan-Islam banyak yang berkomentar tentang fatwa ulama termasuk yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang namanya komentar tentu beraneka ragam, sesuai dengan latar belakang komentator dalam hal gaya hidup, kecerdasan, keyakinan, akhlak dan lain-lain.

Bagi saya semua itu tidak aneh, alias biasa-biasa saja. Ada kalanya fatwa MUI didukung oleh mayoritas umat Islam dan dicaci maki sebagian kecil yang lain. Kali yang lain didukung oleh pemerintah dan lecehkan oleh masyarakat. Tidak jarang juga fatwa MUI membuat gerah banyak kalangan yang kepentingannya dirugikan. Semua orang berteriak sesuai dengan kepentingannya. Mana yang sesuai dan menyenangkannya tentu akan mendukung dan membelanya, mana yang merugikan atau tidak sesuai dengan kesenangannya tentu akan mencibirnya.

Lantas bagaimana kita menyikapi itu semua? Allah SWT berfirman, “Tanyalah kepada ahladzdzikri (ulama atau orang-orang yang mengerti ilmu tentang sesuatu) jika kamu tidak mengetahui”. Sederhana saja sebenarnya, jika kita tidak mengetahui tentang sesuatu kita disuruh untuk menanyakannya kepada orang yang berilmu. Jika persoalannya adalah berkaitan dengan hukum halal dan haram atas segala cara hidup kita sehari-hari, maka bertanyanya ya kepada ahli hukum Islam (‘ulama). Kalau pertannyaan itu berkaitan dengan cara membuat bangunan, tentu saja kita bertanya kepada seorang civil engineer atau tukang bangunan.

Jadi, jika kita merasa nggak perlu ada yang kita tanyakan kepada seorang ulama atau MUI karena sudah tahu persis hukumnya, maka fatwa tersebut nggak akan berarti bagi kita. Sebaliknya, jika kita selalu bertanya-tanya bagaimana sebenarnya Islam memandang Golput dan Rokok, maka jawaban dari MUI dalam bentuk fatwa tentu bisa membantu kita mengambil keputusan, yaitu patuh dan taat atas hukum yang telah ditetapkan oleh orang-orang yang kita anggap menguasai syariat Islam ini atau menolak mentah-mentah karena tidak sesuai dengan bisikan hawa nafsunya.

Sikap yang baik menurut saya adalah menerima dan mengikuti jika memang mampu menjalankan. Jika ternyata berat untuk menjalankannya maka katakanlah dalam hati bahwa kita menerima fatwa itu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta penghargaan kepada para ahlul ‘ilmi walaupun dalam kenyataannya masih kita langgar.Firman Allah: “Taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan ulil amri minkum”. Makna ulil amri adalah orang-orang yang mengurusi urusan kaum muslimin dan para ulama termasuk di dalamnya.

Takutlah kita bertindak tanpa ilmu, hanya mengikuti hawa nafsu atau untuk menunjukkan kesombongan kita di hadapan Allah SWT. Islam tidak hanya mengatur ritual keagamaan tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Salah satu sikap yang melemahkan umat Islam sendiri adalah ketika mereka menghina saudara muslimnya sendiri dan memuji-muji orang yang membenci Islam. Para ulama warasatul anbiya – apapun perbedaan mazhabnya dengan kita – wajib dihormati dan dibela atas perjuangannya menyelamatkan aqidah umat. Wallahu a’alam.

2 thoughts on “Fatwa MUI

  1. waaahhhh……yang biqin MUI ga tau diri cuma satu hal aja :
    1. MUI bisa meng-influence seluruh elemen masyarakat indonesia dalam sekali pengeluaran statement. sedang tidak smua elemen msyarakt ngerti porsi dan arti dari produk “fatwa” itu sendiri….nah klo yang ngerti kaya kita2, kan tau bahwa “fatwa” adalah himbauan ( ya, namanya juga himbauan tul ga, bole diikuti bole enggak ), tapi bagi mereka yang awam “fatwa” itu adalah “wajib diikuti”…ini dia yang parah…mereka yang awam kan biasanya langsung “judging” tanpa mikir 1stngah X, eh salah tanpa mikir 2 kali ^_^.walhasil deh…malah menurut gw “fatwa” banyak sisi negatifnya juga deh.

    jadi klo fatwa ada sisi negatifnya ( napak tilas alesan Ulama ttg facebook ), berati bukan nggak mungkin kan “fatwa” itu sendiri,termasuk kategori haram? ^_^…ya nggak coy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s