Kiat Dan Strategi Belajar Bahasa Arab Secara Mandiri

Satu hal yang mungkin aneh bagi sebagian orang adalah ketika saya tanpa bosan-bosannya mengajak umat Islam di sekitar saya untuk belajar bahasa Arab, padahal saya tidak bisa berbahasa Arab atau membaca kitab kuning kecuali ala kadarnya yang mudah-mudah. Namun dari sedikit yang saya bisa, alhamdulillah saya sudah merasakan manfaat yang besar seperti bisa mencari kata atau kalimat di kamus Bahasa Arab, sedikit banyak tahu kalau ada salah penempatan terjemah qur’an atau hadits (baik oleh khatib atau dalam buku terjemah yang disertai teks arabnya), searching kitab-kitab dalam bahasa arab di internet, dan termasuk memanfaatkan koleksi kitab di maktabah syamilah).

Di samping itu, ada pelajaran lain yang bisa saya ambil dan bagikan kepada teman-teman tentang bagaimana strategi belajar bahasa Arab, khususnya bagi remaja yang belajar di sekolah umum, atau jama’ah masjid dari kalangan awam yang ingin belajar bahasa Arab (bukan untuk tujuan menjadi ahli atau ulama) dan terlebih lagi bagi mereka se-tipe seperti saya, yaitu yang maunya ketemu dengan kondisi belajar seperti berikut:
• Tempat belajarnya dekat rumah dan mudah dijangkau.
• Biaya yang dikeluarkannya sehemat mungkin.
• Pelajarannya mudah dipahami atau tidak membuat stress karena menghafal.
• Waktu belajarnya fleksibel.

Kayaknya enak ya kalau bisa ketemu kriteria-kriteria di atas? Tetapi, adakah kondisi yang seperti itu? Insya Allah sulit didapatkan, tetapi Insya Allah bisa kita dapatkan, karena alhamdulillah saya juga mendapatkan kondisi yang demikian. Contoh kondisi tersebut: Di sekitar kita ada ustadz yang bisa bahasa Arab, mau mengajari kita secara gratis dengan metode dan buku pegangan yang mudah dan memungkinkan kita belajar sendiri secara aktif, waktu belajarnya bisa diatur sesuai situasi dan kondisi, serta ada beberapa teman belajar yang punya semangat sama dan belajar bersama sebelum jadwal belajar dengan ustadz.

Jika kondisi di atas sulit terpenuhi, maka cobalah strategi seperti berikut, Insya Allah bisa diterapkan untuk memulai belajar bahasa Arab dengan lebih mudah (bahkan jika dari NOL sekalipun, yang penting bisa membaca tulisan Arab):

1. Tentukan niat yang jelas, belajar bahasa Arab untuk apa? Pasang niat ikhlas semata-mata untuk keridhaan Allah SWT, karena dengan belajar bahasa Arab berarti kita belajar bahasa Al-Qur’an, bahasa Al-Hadits dst.
Niatkan belajar bahasa Arab itu tidak hanya untuk sebulan atau setahun, tetapi untuk selama hidupnya. Bukankah belajar itu tidak ada kata akhir sampai masuk liang lahat?
Dalam hal ini, saya sangat tidak bisa mengikuti pola belajar bahasa Arab sistem kilat. Kalau sekedar untuk mengenal komposisi bahasa Arab, tentu bisa. Tetapi jika ingin mengambil manfaat minimal dari kemampuan dalam bahasa Arab, hal tersebut hanya bisa berlaku untuk mereka yang Cerdas. Untuk orang yang seperti saya, atau mereka yang susah paham dan susah menghafal, ya hanya akan menyia-nyiakan waktu saja. Insya Allah akan lebih efektif mematok waktu saja minimal 3 (tiga) tahun, dan selanjutnya belajar secara lebih mandiri.
2. Tentukan tujuan belajar, mau belajar berkomunikasi atau untuk mampu memahami kandungan Al-Qur’an/Hadits atau kitab-kitab berbahasa Arab?, atau untuk kedua-duanya? Yang pasti, pelajaran yang perlu dipelajari adalah bahasa Arab resmi (fushah) dan bukannya yang ‘pasaran’.
3. Pilih buku pelajaran yang mudah dipelajari. Dalam hal ini, to the point saja, lakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Beli buku “Durussul Lughah al-Arabiyah Li Ghairi Naathiqiina Biha” karya Dr. V. Abdur Rahim, Dosen Universitas Islam Madinah, atau download di http://www.kalamullah.com/Books/Madina%20Books%20-%20Key%20in%20English/Lughat_ul_Arabia1.pdf
b. Download buku pedoman buku di atas yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia http://www.raudhatulmuhibbin.org/ 2009/02/panduan-durusul-lughah-al-arabiyyah-1.html
c. Download rekaman pelajaran bahasa Arab di Radio Rodja bersama Ustadz Hamzah (http://radiorodja.com/).
d. Tentukan jadwal belajar, baik pagi sore atau malam. Akan lebih baik jika diupayakan membentuk group/kelompok belajar bahasa Arab, terlebih lagi jika ada yang pernah belajar bahasa Arab atau bahkan bisa mengajarkannya.
e. Dengarkan rekaman pelajaran sambil membuka buku pelajaran. Jangan melangkah ke rekaman berikutnya jika belum memahami yang baik. Lakukan pengulangan dan pengulangan secukupnya.
4. Sebagai tambahan materi untuk mengetahui tentang materi dasar ilmu nahwu, bisa disimak pelajaran Bahasa Arab Dasar Online. Silakan download di http://badaronline.com/daftar-isi
Insya Allah, pelajaran disampaikan dengan sangat jelas dan mudah dipahami. Namun, karena tidak interaktif, tetap harus mencari ustadz untuk tempat bertanya, baik tatap muka, via telepon atau online.
5. Tambah wawasan dengan beli buku-buku bahasa Arab, tetapi tetap harus ingat pelajaran utama adalah buku yang disebutkan di atas.
6. Tetap istiqomah, Insya Allah minimal 3 (tiga) tahun ke depan, dengan upaya yang tiada terputus, kemampuan bahasa Arab Anda tidak kalah dengan yang belajar di pesantren ‘biasa’.

Pada akhirnya, semua tergantung kepada sejauh mana keseriusan dan semangat kita mempelajari bahasa Arab. Mungkin saya termasuk orang yang menyesal, karena tidak sungguh-sungguh belajar sejak dulu dengan benar. Bersyukurlah bagi Anda yang masih muda dan hidup di zaman sekarang ini, semua materi pelajaran telah tersedia, tinggal kita mau memanfaatkan atau tidak?
Jika ada kesulitan bagi Anda yang berminat mempraktekkan masukan di atas, baik dalam pengadaan materi pelajaran atau lainnya, silakan hubungi saya. Insya Allah dengan senang hati saya akan bantu untuk Anda. Wallahu a’lam. (Oleh Purwono)

Advertisements

Hadits 1302 Bulughul Maram

Pada malam Senin tanggal 22 Feb 2008 kemarin, materi yang menjadi pembahasan adalah hadits Bulughul Maram Kitab al-Jami’ hadits ke 1302, 1303 dan 1304 (Taudhihul Ahkam).

Terjemah bebas dari hadits-hadits tersebut kurang lebih adalah:

1302. …Sesungguhnya seseorang yang membelanjakan hartanya dengan jalan yang tidak benar maka baginya api neraka pada hari kiamat.

1303. …Wahai hambaKu, sesunggunya Aku mengharamkan kedhaliman atas Diriku dan aku menjadikannya atas kalian sesuatu yang haram. Oleh karena itu janganlah kalian saling berbuat dhalim.

1304. …Tahukah kalian Ghibah itu? Para shahabat berkata: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Rasulullah bersabda, “Engkau membicarakan ihwal saudaramu yang saudaramu tidak sukai untuk dibicarakan.”  Para shahabat bertanya, “Bagaimana menurutmu ya Rasulullah jika sekiranya yang kami bicarakan itu benar?” Rasul menjawab, “Jika yang engkau bicarakan itu benar maka sungguh engkau telah meng-Ghibah-nya, dan jika yang engkau bicarakan itu tidak benar, maka sungguh engkau telah memfitnahnya.

Di dalam pembahasan dan diskusi yang terjadi dengan santai, ditemani segelas teh manis hangat dan pisang goreng itu, muncul berbagai pertanyaan dan celetukan. Sebagian di antara anggota Liqo’ memang masih merokok (semoga segera taubat) sehingga ketika mas Fatkur nyeletuk bahwa di antara membelanjakan harta dalam hal yang tidak benar itu adalah MEROKOK maka yang lainnya pun dengan senyuman khas menimpali, betul itu, he..he… Tapi, bukan aku lho yang ngomong, kata saya.

Allah SWT didalam hadits di atas menegaskan bahwa kedhaliman  haram bagi-Nya dan bagi umat-Nya.  Lantas bagaimana sebenarnya kedhaliman yang terjadi di dunia ini? bukankah Allah SWT juga menyatakan bahwa segala yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak-Nya? Kalau begitu bagaimana mungkin kedhaliman diingkari oleh-Nya?

Secara singkat bisa dikatakan bahwa pada hakekatnya kedhaliman itu memang bukan perbuatan Allah.  Allah mengetahui dan mengizinkan iya.  Bisa jadi sesuatu yang menurut kita itu dhalim, padahal sebenarnya bukanlah kedhaliman karena ada hikmah besar yang positif bagi kita jika kita mampu mensikapinya. Hal lain, ketika terjadi banyak kerusakan di darat dan lautan yang menyebabkan banjir, kebakaran, polusi dlsbg, Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa semua itu akibat perbuatan manusia.

Diskusi malam itu banyak berputar pada Ghibah, sesuatu yang sangat akrab di sekitar kita. Ghibah mudah dipahami jika kita hanya membatasi membicarakan perbuatan orang lain yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak membawa madharat luas di tengah-tengah masyarakat. Contoh, apabila melihat teman kita minum-minuman keras sampai mabok tetapi dilakukan di rumahnya, maka membicarakannya adalah ghibah. Sebaliknya, jika kita melihatnya mabok-mabokan di luar ruangan yang terlihat banyak orang, apalagi sampai mengganggu ketertiban sosial, maka membicarakannya bukanlah Ghibah. Bahkan kita harus membicarakan bagaimana menghentikan perbuatannya.

Jari Pintar

Terhitung sejak tanggal 24 Pebruari 2009, Jari Pintar Aritmatika (JPA) secara resmi telah mulai beroperasi di wilayah kecamatan Cisauk, Tangerang. Bagi Anda yang berminat

– Menjadi guru JPA

– Membuka anak cabang di wilayah Cisauk-Tangerang

– Belajar untuk mengajar anak-anak Anda sendiri, atau

– Ingin anak anda belajar berhitung cepat dengan jari

bergabunglah bersama kami.

Hubungi Ibu Isti: 081399364262 atau Purwono: 081317955649

http://jaripintar.com/

Halaqah

Dalam banyak kesempatan, saya mendengar banyak saudara-saudara saya mengeluhkan kondisi bangsa Indonesia yang jauh dari harapan. Pemerintah yang korup, berada di luar konsep daulah islamiyah, masyarakatnya suka anut grubyuk ra ngerti rembug (ikut melibatkan diri pada suatu perkara tanpa tahu duduk permasalahannya), susah untuk diajak disiplin, nggak suka ngantre, suka buang sampah sembarangan dan lain-lain. Keluhan-keluhan itu biasanya lancar diobrolkan, namun akan mendadak berhenti untuk berfikir keras jika muncul pertanyaan sekaligus tuntutan kepada sang pembicara. Pertama, bagaimana untuk memulai memperbaiki itu semua dan kedua, apa yang sudah atau akan anda lakukan?

Sejauh ini, saya bersepakat bahwa semua itu bisa diperbaiki bahkan dengan cara yang paling sederhana sekalipun sehingga “mestinya” bisa dilakukan oleh banyak orang terutama mereka yang bisa atau suka mengkritisi kondisi bangsanya/lingkungannya yang jauh dari harapan. Teori yang ndangkik-ndangkik (muluk-muluk, canggih, modern, sophisticated) boleh-boleh saja dan bahkan perlu diupayakan oleh para pakar. Namun jika dengan yang sederhana pun bisa dilakukan, kenapa harus menunggu yang tidak sederhana? Bukankah perubahan ke arah yang lebih baik harus segera dilakukan?

Cara sederhana itu bagi saya adalah, setiap kaum muslimin hendaknya memiliki halaqah (kelompok pertemuan) rutin sebagai wahana memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat sekitar dari yang terdekat. Di dalamnya cukup dikembangkan empat kegiatan utama saja, yaitu 1) kegiatan menyehatkan ruhani dengan membaca Al-Qur’an dan komitmen menjalankan ibadah-ibadah wajib lainnya, 2) kegiatan mengkayakan akal pikirannya dengan mengkaji hukum-hukum agama tanpa memaksakan pendapat pribadi serta mengkaitkannya dengan persoalan-persoalan umat, 3) kegiatan sosial berupa kerja bakti atau bantuan-bantuan sosial lain, dan 4) menyehatkan raga dengan olahraga bersama.

Maka Insya Allah, dari halaqah itu akan dirasakan bahwa tiadalah persoalan hidup itu berat apabila dibahas dan dipecahkan bersama dengan saudara-saudaranya serta dengan tetap merujuk kepada solusi yang disediakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kitapun akan terhindar dari rutinitas hidup yang membosankan, hanya keluar pagi-pagi ke tempat kerja dan pulang malam ke rumah untuk tidur serta pagi-pagi berangkat kerja kembali(.)

Fatwa MUI

Sekarang ini, orang-orang lagi rame membicarakan fatwa MUI tentang Golput dan Rokok. Kemarin dulu rame-rame tentang fatwa sesat aliran Ahmadiyah. Lebih lama lagi fatwa tentang halalnya kodok dan haramnya memberi Ucapan Selamat Natal kepada umat Nashrani. Sekarang, kemarin, dulu dan Insya Allah besok-besok juga, orang Islam dan juga orang bukan-Islam banyak yang berkomentar tentang fatwa ulama termasuk yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang namanya komentar tentu beraneka ragam, sesuai dengan latar belakang komentator dalam hal gaya hidup, kecerdasan, keyakinan, akhlak dan lain-lain.

Bagi saya semua itu tidak aneh, alias biasa-biasa saja. Ada kalanya fatwa MUI didukung oleh mayoritas umat Islam dan dicaci maki sebagian kecil yang lain. Kali yang lain didukung oleh pemerintah dan lecehkan oleh masyarakat. Tidak jarang juga fatwa MUI membuat gerah banyak kalangan yang kepentingannya dirugikan. Semua orang berteriak sesuai dengan kepentingannya. Mana yang sesuai dan menyenangkannya tentu akan mendukung dan membelanya, mana yang merugikan atau tidak sesuai dengan kesenangannya tentu akan mencibirnya.

Lantas bagaimana kita menyikapi itu semua? Allah SWT berfirman, “Tanyalah kepada ahladzdzikri (ulama atau orang-orang yang mengerti ilmu tentang sesuatu) jika kamu tidak mengetahui”. Sederhana saja sebenarnya, jika kita tidak mengetahui tentang sesuatu kita disuruh untuk menanyakannya kepada orang yang berilmu. Jika persoalannya adalah berkaitan dengan hukum halal dan haram atas segala cara hidup kita sehari-hari, maka bertanyanya ya kepada ahli hukum Islam (‘ulama). Kalau pertannyaan itu berkaitan dengan cara membuat bangunan, tentu saja kita bertanya kepada seorang civil engineer atau tukang bangunan.

Jadi, jika kita merasa nggak perlu ada yang kita tanyakan kepada seorang ulama atau MUI karena sudah tahu persis hukumnya, maka fatwa tersebut nggak akan berarti bagi kita. Sebaliknya, jika kita selalu bertanya-tanya bagaimana sebenarnya Islam memandang Golput dan Rokok, maka jawaban dari MUI dalam bentuk fatwa tentu bisa membantu kita mengambil keputusan, yaitu patuh dan taat atas hukum yang telah ditetapkan oleh orang-orang yang kita anggap menguasai syariat Islam ini atau menolak mentah-mentah karena tidak sesuai dengan bisikan hawa nafsunya.

Sikap yang baik menurut saya adalah menerima dan mengikuti jika memang mampu menjalankan. Jika ternyata berat untuk menjalankannya maka katakanlah dalam hati bahwa kita menerima fatwa itu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta penghargaan kepada para ahlul ‘ilmi walaupun dalam kenyataannya masih kita langgar.Firman Allah: “Taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan ulil amri minkum”. Makna ulil amri adalah orang-orang yang mengurusi urusan kaum muslimin dan para ulama termasuk di dalamnya.

Takutlah kita bertindak tanpa ilmu, hanya mengikuti hawa nafsu atau untuk menunjukkan kesombongan kita di hadapan Allah SWT. Islam tidak hanya mengatur ritual keagamaan tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Salah satu sikap yang melemahkan umat Islam sendiri adalah ketika mereka menghina saudara muslimnya sendiri dan memuji-muji orang yang membenci Islam. Para ulama warasatul anbiya – apapun perbedaan mazhabnya dengan kita – wajib dihormati dan dibela atas perjuangannya menyelamatkan aqidah umat. Wallahu a’alam.

Al-Qur’an Terjemah Perkata

Ada yang menarik ketika saya mengunjungi sebuah stand Bazar di sebuah kantor pemerintah. Nggak ada yang lain, kecuali sebuah kitab berjudul “Al-Qur’anulkarim, Terjemah Per-Kata Type Hijaz”. Coveringnya bagus dan begitu dibuka, subhanallah…bagaikan mimpi yang terwujud ketika ayat-ayat al-qur’an yang terlulis di atas kertas kuning tersebut dilengkapi makna per-kalimat (kalimat dalam bahasa Arab sama dengan kata dalam bahasa Indonesia) dan di bagian belakang ada indeks.

Mengapa saya katakan bagaikan mimpi terwujud? Sekitar tahun 1996 saya membantu Ustadz  Shalahuddin (sekarang sudah Doktor bahasa Arab ya?) mengetik karya beliau yang diberi judul “Ritajul Qur’an”, sebuah kitab ringkas pelajaran Nahwu Sharaf berdasarkan konsepnya yang kurang lebih mensyaratkan 9 (sembilan) tahap (gerbang/jembatan = ritaj) untuk memahami Al-Qur’an. Salah satu gerbang tersebut adalah Fahmu Tarjamah, yaitu memahami al-Qur’an setelah melewati fahmu qiraah dan fahwu kitabah. Untuk mampu menterjemah al-Qur’an (tidak sama dengan tafsir) seseorang harus menguasai teori nahwu sharaf, maka dari situlah Ustadz Shalahuddin menawarkan pelajaran nahwu sharaf yang penuh dengan contoh-contoh dari al-Qur’an.

Pada perkembangan selanjutnya saya menemukan sebuah karya berjudul al-Inayah (terjemah al-qur’an lafdziah) yang didalamnya al-Qur’an diterjemahkan per-kata berikut cara membacanya dan arti lengkap.  Ada lagi sistem menterjemahkan al-Qur’an metode Granada oleh Ustadz Bunyamin, 40 jam menterjemah al-Qur’an (sistem Istiqlal) dan mungkin masih ada yang lain-lainnya, di antaranya adalah Tafsir Al-Ibriz karya Al-Ustadz Bisri Mustofa (dalam bahasa Jawa pesantren, sehingga kesannya  terasa beda) yang bahkan saya dapatkan jauh sebelum ini -cuma punya 6 jilid kecil- . Semua itu mengajarkan dan mengarahkan agar kaum muslimin khususnya mampu memahami al-Qur’an dari cara yang paling sederhana, yaitu memahami kalimat per-kalimat sebelum nantinya menguasai atau memahami tafsirnya.

Terus terang, saya sangat terobsesi untuk mampu mengerti makna lafdhiah al-Qur’an sejak memunculkan Kitab Ritajul Qur’an dan mengenal metode Granada. Usaha terakhir yang saya lakukan dan sementara berhenti pada surat Al-Isra, adalah secara mandiri membuka pada kamus satu persatu kalimat al-Qur’an dan saya beri catatan di al-Qur’an itu sendiri. Di sini saya menemukan betapa Allah SWT mendorong kita untuk memahami al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, karena tidak sedikit untuk mengungkap hal yang sama Dia menggunakan kosa kata yang berbeda.

Alhamdulillah sekarang sudah ada kitab terjemah per-kata yang dari sisi kemasannya PAS dengan yang saya inginkan, praktis dan dengan harga terjangkau.  Terima kasih.

Assalamu’alaikum

Semoga Allah SWT memberikan salam sejahtera kepada siapa saja yang berada di atas petunjuk-Nya.

Sesungguhnya kehidupan dunia itu bagaikan ladang tempat kita menanam. Adakalanya hasil tanaman itu sudah bisa kita nikmati segera dan bisa saja tertunda atau kembali kita nikmati suatu hari nanti. Namun yang pasti adalah bahwa semua yang kita tanam itu akan terlihat nyata, begitu detail dan tak terlewatkan satupun. Jika tanaman kita berupa kebaikan, maka kenikmatan yang akan kita rasakan. Sebaliknya jika keburukan yang kita perjuangkan, maka siap-siap sajalah kita menderita, kecuali ada maaf dari mereka atau ampunan dari Dzat Yang Maha Ghafur.

Semoga melalui halaman-halaman ini, saya bisa menanam kebaikan.